Semua artikel

Panduan Menulis

Rumusan Masalah: Cara Membuat, Pola Kalimat, dan Contohnya

Cara membuat rumusan masalah skripsi yang spesifik dan bisa dijawab: pola kalimat, contoh kuantitatif dan kualitatif, contoh per jurusan, dan revisinya.

Tim Editorial Mahasigma9 menit baca

Sampul artikel: cara membuat rumusan masalah

Ringkasan cepat

  • Rumusan masalah adalah pertanyaan spesifik yang menyebut fokus atau variabel, subjek, dan konteks penelitian.
  • Pilih pola kalimat (deskriptif, komparatif, hubungan, atau pengaruh) sesuai desain dan analisis, bukan karena terdengar ilmiah.
  • Rumusan kualitatif menanyakan proses, pengalaman, atau makna, dan dapat dipertajam selama penelitian berjalan.
  • Judul, rumusan masalah, tujuan, dan kesimpulan BAB V harus bisa dibaca sebagai satu rantai.

Rumusan masalah adalah pertanyaan penelitian yang menyatakan secara spesifik apa yang ingin dijawab oleh skripsimu, biasanya ditulis dalam kalimat tanya di BAB I setelah latar belakang. Rumusan masalah yang baik menyebut fokus atau variabel, subjek, dan konteks penelitian, serta dapat dijawab dengan data yang benar-benar bisa kamu kumpulkan.

Rumusan masalah menentukan banyak hal sesudahnya: tujuan penelitian, jenis data, teknik analisis, hingga isi kesimpulan di BAB V. Karena itu, perubahan satu kata, misalnya ‘hubungan’ menjadi ‘pengaruh’, bisa mengubah desain penelitian. Semua contoh di panduan ini rekaan untuk latihan; format penulisan, jumlah rumusan, dan istilah yang dipakai tetap mengikuti pedoman program studimu.

Ciri rumusan masalah yang baik

Rumusan masalah yang baik bisa dijawab, cukup sempit, dan selaras dengan judul. Pakai enam ciri berikut sebagai checklist sebelum membawanya ke bimbingan.

  • Spesifik. Menyebut variabel atau fokus, subjek, dan konteks (tempat atau periode bila relevan). ‘Bagaimana motivasi belajar siswa?’ masih terlalu terbuka.
  • Dapat dijawab dengan data. Kamu tahu data apa yang dibutuhkan dan dari mana memperolehnya secara sah dan realistis.
  • Berbentuk pertanyaan yang jelas. Banyak pedoman meminta kalimat tanya, dan satu kalimat sebaiknya memuat satu persoalan pokok.
  • Netral. Tidak memuat jawaban atau penilaian yang belum diuji, misalnya menanyakan ‘mengapa program X gagal’ sebelum ada bukti bahwa program itu gagal.
  • Sesuai pendekatan. Pertanyaan ‘seberapa besar pengaruh’ menuntut pengukuran; pertanyaan ‘bagaimana pengalaman’ menuntut data yang mendalam.
  • Berakar pada latar belakang. Persoalan yang ditanyakan sudah dibuktikan di latar belakang, bukan muncul tiba-tiba di akhir BAB I.

Apa beda rumusan masalah, identifikasi masalah, dan pertanyaan penelitian?

Identifikasi masalah mendaftar berbagai persoalan yang kamu temukan, sedangkan rumusan masalah memilih persoalan yang benar-benar akan diteliti lalu menuliskannya sebagai pertanyaan. Istilah pertanyaan penelitian sering dipakai sebagai sinonim rumusan masalah, tetapi sebagian pedoman memakainya untuk pertanyaan turunan yang lebih operasional.

Identifikasi masalah, rumusan masalah, dan pertanyaan penelitian

Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom.

AspekIdentifikasi masalahRumusan masalahPertanyaan penelitian
IsiDaftar persoalan yang tampak dari latar belakangPersoalan terpilih yang akan dijawab penelitianPertanyaan yang dijawab langsung lewat data
CakupanLuas; boleh lebih banyak dari yang ditelitiSempit; sesuai batasan masalahSama dengan rumusan masalah atau turunannya
BentukUmumnya pernyataan berpoinUmumnya kalimat tanyaKalimat tanya
Contoh (rekaan)Nilai matematika rendah; siswa jarang bertanya; media ajar terbatasApakah terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara kelas yang memakai model PBL dan kelas dengan pembelajaran konvensional?Berapa rata-rata nilai tes akhir tiap kelas, dan apakah selisihnya signifikan?

Ada prodi yang tidak memakai bagian identifikasi masalah, ada pula yang memakai istilah fokus penelitian untuk skripsi kualitatif. Ikuti struktur di pedomanmu.

Di antara identifikasi dan rumusan, banyak proposal menyertakan batasan masalah. Bagian ini menjelaskan mengapa hanya sebagian persoalan yang dipilih, misalnya karena keterbatasan akses data atau waktu penelitian.

Pola kalimat rumusan masalah dan contohnya

Dalam penelitian kuantitatif, rumusan masalah lazim dibedakan menurut jenis jawaban yang dicari: gambaran suatu variabel, perbedaan antarkelompok, hubungan, atau pengaruh. Pilih pola yang sesuai dengan desain dan analisis yang akan kamu jalankan, bukan yang terdengar paling meyakinkan.

Empat pola rumusan masalah

Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom.

PolaKapan dipakaiPola kalimatContoh (rekaan)
DeskriptifMenggambarkan kondisi variabel tanpa membandingkan atau menghubungkannyaBagaimana tingkat [variabel] pada [subjek] di [konteks]?Bagaimana tingkat literasi keuangan mahasiswa penerima beasiswa di Universitas X?
KomparatifMembandingkan satu variabel pada dua kelompok atau lebihApakah terdapat perbedaan [variabel] antara [kelompok A] dan [kelompok B]?Apakah terdapat perbedaan kecemasan menghadapi ujian antara siswa jurusan IPA dan IPS di SMA Y?
Asosiatif (hubungan)Melihat apakah dua variabel bergerak bersama, tanpa mengklaim sebabApakah terdapat hubungan antara [X] dan [Y] pada [subjek]?Apakah terdapat hubungan antara durasi tidur dan konsentrasi belajar mahasiswa tingkat akhir Prodi X?
Pengaruh (kausal)Menguji apakah X memengaruhi Y; teori dan desain harus mendukung arah iniApakah [X] berpengaruh terhadap [Y] pada [subjek]? / Seberapa besar pengaruh [X] terhadap [Y]?Apakah intensitas promosi di media sosial berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen Kedai Z?

Nama kampus, sekolah, dan usaha pada tabel adalah rekaan. Dalam skripsi, ganti dengan konteks penelitianmu yang sebenarnya.

Hati-hati dengan kata ‘pengaruh’. Survei yang diambil satu kali umumnya menunjukkan hubungan; klaim bahwa X menyebabkan Y menuntut dasar teori yang kuat dan desain yang mendukung, misalnya eksperimen. Banyak skripsi tetap memakai frasa ‘pengaruh’ dengan analisis regresi, tetapi pembahasannya perlu jujur tentang batas kesimpulan. Pertimbangan ini dibahas lebih lanjut di panduan memilih metode kuantitatif atau kualitatif.

Contoh rumusan masalah kuantitatif dan kualitatif

Rumusan masalah kuantitatif menanyakan tingkat, perbedaan, hubungan, atau pengaruh antarvariabel yang diukur. Rumusan masalah kualitatif menanyakan proses, pengalaman, atau makna dalam konteks tertentu. Satu topik bisa melahirkan keduanya, seperti contoh rekaan tentang pelaku UMKM kuliner dan layanan pesan-antar daring berikut.

Satu topik, dua jenis rumusan masalah (rekaan)

Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom.

AspekKuantitatifKualitatif
Kata tanya yang sering dipakaiApakah, seberapa besar, bagaimana tingkatBagaimana (proses atau pengalaman), mengapa, apa makna
Contoh rumusanApakah biaya komisi dan kemudahan aplikasi berpengaruh terhadap keputusan pelaku UMKM kuliner di Kota X untuk bergabung dengan layanan pesan-antar daring?Bagaimana pelaku UMKM kuliner di Kota X memutuskan untuk bergabung atau keluar dari layanan pesan-antar daring?
Data yang dibutuhkanSkor kuesioner tiap variabel dari sampel pelaku usahaWawancara mendalam, observasi, dan dokumen dari beberapa informan
Sifat rumusanDitetapkan sejak proposal dan menjadi dasar hipotesisDapat dipertajam di lapangan, sesuai rancangan dan persetujuan pembimbing

Pada penelitian kualitatif, banyak peneliti menulis satu pertanyaan utama lalu dua atau tiga subpertanyaan. Contoh rekaan:

Pertanyaan utama: Bagaimana pelaku UMKM kuliner di Kota X memutuskan untuk bergabung atau keluar dari layanan pesan-antar daring? Subpertanyaan: (1) Pertimbangan apa yang mereka sebut saat memutuskan bergabung? (2) Bagaimana mereka menyesuaikan menu dan harga setelah bergabung? (3) Pengalaman apa yang mendorong sebagian dari mereka keluar?

Pertanyaan kualitatif tidak memuat variabel X dan Y dan tidak dirancang untuk diuji dengan hipotesis. Sebaliknya, kata ‘bagaimana’ tidak otomatis berarti kualitatif: ‘Bagaimana tingkat kepuasan pengguna…’ adalah pertanyaan deskriptif kuantitatif bila jawabannya berupa skor.

Contoh rumusan masalah dari beberapa jurusan

Contoh berikut disederhanakan untuk menunjukkan pola. Gunakan sebagai cermin, bukan untuk disalin: rumusan yang layak lahir dari latar belakang dan data yang kamu miliki.

Contoh rumusan masalah per jurusan (rekaan)

Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom.

JurusanJenisContoh rumusan masalah
PendidikanKuantitatif, komparatifApakah terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara siswa kelas VIII yang belajar dengan model inkuiri terbimbing dan siswa yang belajar dengan metode ceramah di SMP X?
PendidikanKualitatifBagaimana guru kelas rendah di SD Y merancang asesmen formatif untuk siswa yang belum lancar membaca?
ManajemenKuantitatif, pengaruhApakah kualitas pelayanan dan persepsi harga berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan Toko Daring Z, baik secara parsial maupun simultan?
ManajemenKualitatifBagaimana pemilik usaha keluarga di Kota X menyiapkan anaknya sebagai penerus usaha?
KesehatanKuantitatif, hubunganApakah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas X?
KesehatanKualitatifBagaimana pengalaman kader posyandu dalam mendampingi ibu hamil yang enggan memeriksakan kehamilannya?
InformatikaRancang bangunBagaimana merancang sistem informasi peminjaman alat yang dapat mencatat status alat secara real-time di Laboratorium X?
InformatikaKuantitatif, evaluasiBagaimana tingkat usability aplikasi presensi Kampus Y menurut penggunanya bila diukur dengan System Usability Scale (SUS)?

Semua nama sekolah, puskesmas, toko, laboratorium, dan kampus pada tabel adalah rekaan.

Rumusan rancang bangun di informatika biasanya perlu ditemani pertanyaan pengujian, misalnya apakah sistem berjalan sesuai kebutuhan pengguna berdasarkan uji fungsional. Tanpa pertanyaan pengujian, skripsi mudah berubah menjadi laporan pembuatan aplikasi saja.

Kesalahan umum saat membuat rumusan masalah (dan perbaikannya)

Sebagian besar revisi rumusan masalah berkisar pada kalimat yang terlalu luas, memuat jawaban, atau tidak cocok dengan metode. Bandingkan versi sebelum dan sesudah berikut.

Sebelum dan sesudah revisi (rekaan)

Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom.

MasalahSebelumSesudah
Terlalu luasBagaimana pengaruh media sosial terhadap remaja?Apakah terdapat hubungan antara intensitas penggunaan TikTok dan durasi tidur siswa kelas XI di SMA X?
Memuat jawabanMengapa kurikulum baru membuat guru kesulitan?Bagaimana guru di SMP Y menyesuaikan perencanaan pembelajaran pada tahun pertama penerapan kurikulum baru?
Variabel tidak bisa diukurApakah aplikasi ini bagus untuk mahasiswa?Bagaimana tingkat usability aplikasi Z menurut mahasiswa pengguna berdasarkan skor SUS?
Tidak cocok dengan metodeSeberapa besar pengaruh dukungan keluarga terhadap pemulihan pasien? (padahal datanya wawancara dengan tiga informan)Bagaimana pasien pascastroke di Rumah Sakit X memaknai dukungan keluarga selama masa pemulihan?
Dua persoalan dalam satu kalimatBagaimana kepuasan pelanggan dan apa strategi pemasaran Kedai Z?Pisahkan menjadi dua rumusan, atau pilih satu yang benar-benar menjadi fokus.
Ukuran tidak jelasApakah motivasi penting bagi prestasi?Apakah terdapat hubungan antara motivasi berprestasi dan IPK mahasiswa angkatan 2023 Prodi X?

Kata ‘apakah’ tetap lazim di rumusan kuantitatif selama variabel, subjek, dan konteksnya jelas.

  • Jumlah rumusan terlalu banyak. Tidak ada angka baku, tetapi setiap rumusan menambah analisis dan pembahasan yang harus kamu kerjakan dalam waktu yang sama.
  • Rumusan berubah diam-diam. Jika rumusan direvisi tetapi instrumen dan BAB IV tidak ikut berubah, skripsi kehilangan benang merahnya. Catat setiap perubahan dan bicarakan dengan pembimbing.

Cara menyelaraskan rumusan masalah dengan judul dan tujuan

Judul, rumusan masalah, tujuan, dan kesimpulan seharusnya bisa dibaca sebagai satu rantai: judul menamai fokus, rumusan masalah menanyakannya, tujuan menyatakan apa yang hendak dicapai, dan BAB V menjawabnya. Cara termudah memeriksanya adalah menaruh semuanya dalam satu tabel.

Rantai judul sampai kesimpulan (rekaan)

Geser tabel ke samping untuk melihat semua kolom.

BagianIsi
JudulHubungan Durasi Tidur dengan Konsentrasi Belajar Mahasiswa Tingkat Akhir Prodi X
Rumusan masalahApakah terdapat hubungan antara durasi tidur dan konsentrasi belajar mahasiswa tingkat akhir Prodi X?
Tujuan penelitianUntuk mengetahui hubungan antara durasi tidur dan konsentrasi belajar mahasiswa tingkat akhir Prodi X.
HipotesisTerdapat hubungan antara durasi tidur dan konsentrasi belajar mahasiswa tingkat akhir Prodi X.
Kesimpulan BAB VMenyatakan ada atau tidaknya hubungan, beserta arah dan kekuatannya menurut hasil analisis.

Jumlah tujuan biasanya sama dengan jumlah rumusan masalah, dan urutannya sejajar. Untuk rumusan kuantitatif yang menguji hubungan atau pengaruh, hipotesis diturunkan dari kerangka berpikir sebagai jawaban sementara. Jika judul menyebut variabel yang tidak muncul di rumusan masalah, salah satunya perlu direvisi; panduan menentukan judul skripsi bisa membantu.

Langkah membuat rumusan masalah dari nol

Enam langkah berikut membawa topik menjadi pertanyaan yang siap diuji di bimbingan.

  1. Tulis masalahnya dalam satu kalimat pernyataan. Ambil dari kesenjangan antara kondisi ideal dan kondisi nyata yang sudah kamu tunjukkan di latar belakang.
  2. Tentukan fokus atau variabel. Untuk kuantitatif, tetapkan variabel bebas dan terikat; untuk kualitatif, tetapkan fenomena atau proses yang ingin dipahami.
  3. Tetapkan subjek dan konteks. Siapa yang diteliti, di mana, dan bila perlu pada periode kapan.
  4. Pilih pola pertanyaan. Deskriptif, komparatif, hubungan, atau pengaruh untuk kuantitatif; pertanyaan proses, pengalaman, atau makna untuk kualitatif.
  5. Uji kelayakannya. Tanyakan data apa yang diperlukan untuk menjawab, apakah aksesnya sah dan realistis, dan analisis apa yang cocok.
  6. Selaraskan, lalu konsultasikan. Cocokkan dengan judul, tujuan, dan metode, kemudian bawa dua versi alternatif ke pembimbing beserta alasan masing-masing.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

  • Rumusan masalah adalah pertanyaan spesifik yang ingin dijawab oleh penelitian, disusun dari persoalan yang dijelaskan di latar belakang. Ia menjadi dasar tujuan, metode, dan kesimpulan skripsi.

  • Umumnya ya, karena kalimat tanya memperjelas apa yang harus dijawab. Beberapa pedoman mengizinkan bentuk pernyataan, jadi ikuti ketentuan prodimu.

  • Tidak ada angka baku. Jumlahnya mengikuti fokus atau variabel yang benar-benar diteliti; makin banyak rumusan, makin banyak analisis dan pembahasan yang harus kamu kerjakan.

  • Rumusan masalah berbentuk pertanyaan, sedangkan tujuan penelitian menyatakan apa yang hendak dicapai untuk menjawab pertanyaan itu. Keduanya biasanya berjumlah sama dan berurutan sejajar.

  • Contoh rekaan: ‘Bagaimana guru kelas rendah di SD X merancang asesmen formatif untuk siswa yang belum lancar membaca?’ Pertanyaan kualitatif menanyakan proses, pengalaman, atau makna, bukan besaran pengaruh.

  • Boleh bila ada alasan akademik, misalnya masukan penguji atau kendala data. Perubahan perlu disetujui pembimbing dan diikuti penyesuaian tujuan, metode, serta instrumen sesuai aturan kampus.

Ditulis oleh

Tim Editorial Mahasigma

Tim editorial Mahasigma menulis panduan praktis untuk membantu mahasiswa memahami proses penelitian, memeriksa sumber, dan mempertanggungjawabkan draf akademiknya.

Newsletter

Insight akademik yang layak disimpan.

Panduan baru, checklist, dan cara memeriksa draf, tanpa spam.